Berburu Ayam Ke Pasar (postingan lama)

344

Akhirnya setelah sekian lama, mencoba menulis kembali. Selama ini bukan karena tidak ada ide untuk menulis tapi lebih condong karena malas menulis. Sebuah pengakuan yang jujur sekaligus ironis, sebab berbagai ide berseliweran di atas kepala — setiap kali melihat sesuatu, setiap kali mendengar sesuatu, setiap kali merasakan sesuatu – semuanya beterbangan tanpa berusaha ditangkap sama sekali. Bukan berusaha untuk mencari pembenaran tetapi itulah yang terjadi selama ini.

Apalagi ditambah dengan rusaknya laptop selama sekian bulan…sehingga harus membeli laptop baru untuk menggantikan sarana menulis yang baru. Tetap saja itu bukan alasan, sebab setelah membeli laptop baru pun kegiatan menulis tidak dilakukan. Bertekad selalu dilakukan tetapi tekadnya selalu dikalahkan oleh rasa enggan. Rasa enggan yang diberi makan terus menerus akhirnya menjadi semakin besar dan menjadi monster besar – yang sulit untuk kita kalahkan.

Karena ingin mengalahkan dan membuat monster dalam diri itu senantiasa tetap imut itulah, saya dengan amat sangat terpaksa menuliskan ini semua. Ini semua ditulis jam 9 kurang, setelah bangun jam 6 pagi. Dilanjutkan kegiatan pergi menemani mama ke pasar untuk berburu ayam. Sebab, bukankah sebentar lagi lebaran dan banyak yang tidak jualan. Bukan hanya beras dan minyak yang harus ada stoknya di rumah, bahkan DAGING AYAM!

Ada 2 hal yang akan dibuat dalam 2 posting yang saling berkaitan satu sama lain. Topik ini masih berkaitan dengan pengalaman pergi ke pasar. Akan ada 2 topik besar mengenai ini:

  1. Mengapa selalu saya (why me???) yang diajak ke pasar oleh mama? Bukan hanya sekarang ini, tetapi bahkan sejak kecil. Iya sih jadi berpengalaman menawar (sebab I am so sure that many of you have never been in traditional market, right?) tetapi di segi yang lainnya, harus bangun pagi itu loh. Nah, ini akan dibahas mendetil di posting ini.
  2. Bagaimana kegiatan berbelanja berhubungan dengan anggaran keuangan kita. Ini yang akan dibahas di posting berikutnya (dengan catatan, tidak kelupaan, hehehe).

Ok, let’s start! Telah lama menjadi pertanyaan, mengapa selalu saya yang diajak ke pasar, bukan saudara-saudara saya yang lain? Pas belum bisa naik sepeda, saya dibonceng mama. Setelah bisa naik sepeda, disuruh ke pasar sendiri. Setelah bisa naik motor, disuruh memboncengkan. Setelah bawa mobil pun diminta untuk mengantarkan. But, the question why me? Tidak terjawab hingga sekarang. Hanya bisa melihat sisi positifnya dan mengambil pelajaran dari kegiatan itu.

Ok, tadi pagi kami berburu sampai ke pasar Sunter (sekitar 3,5 km) dari tempat kami. Padahal pasar terdekat hanya berjarak +/- 500m dari rumah kami. Alasannya, harga ayam yang sangat mahal dan tidak masuk akal, itu yang membuat kami berburu daging ayam ke sana. Ok, berapa harga ayamnya? Berbeda sekitar 10-15 ribu perekor….sangat lumayan bedanya. Tetapi bukan itu yang dibahas, tapi kembali apa pengalaman menarik kalau kita ke pasar tradisional? Apa tujuan saya membuat posting berikut ini, adalah minimal teman-teman sekalian menjadi tertarik untuk pergi ke pasar, minimal menemani mamanya sekalian.

Ok , apa pelajaran yang menarik?

  • Kita harus bangun lebih pagi! Apa yang menarik dari bangun pagi, masih ngantuk begitu? Nah, justru itulah letak menariknya. Kita harus melawan rasa kantuk kita untuk bisa segera segar kembali. Selain itu, dengan kita bangun pagi, kita akan memiliki waktu jauh lebih panjang. Sehingga bisa kita isi dengan kegiatan yang jauh lebih produktif. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa jika kita bisa bangun lebih awal 1 jam, berarti kita akan memiliki tambahan waktu 1 jam juga untuk kegiatan kita? Jika kita dihargai sebesar Rp 500.000,- perjam, bayangkan berapa yang kita peroleh dari waktu kita lebih awal 1 jam perhari selama sebulan….selama setahun? Wow!
  • Belajar mengenali produk! Kita jadi tahu mana buah yang segar, bagaimana memilih daging, bagaimana mencari dan menyusup untuk mendapatkan barang dengan harga yang terbaik. Bagaimana cara memilih nanas? Tanyakan pada mama teman-teman, mereka pasti akan dengan suka cita menjawab pertanyaan kita.
  • Kita mendapatkan pelajaran bagaimana cara menawar! Ingat, kita harus punya bargaining power di setiap hal yang kita kerjakan. Nah, kita bisa latih ini sejak dini dengan pergi ke pasar. Karena terkadang orang yang menawar itu bukan karena tidak punya uangnya, tetapi karena memang hobi menawar. Coba kalau kita ke carefour atau ke hypermart…mana mungkin kita menawar? Jelas, tidak mungkin kan? 
  • Membangun relationship yang jauh lebih baik antara ur mom and urself. Ini bagian yang terpenting guys, sebab mungkin selama ini kita bingung bagaimana cara kita untuk mendekatkan diri ke ortu kita (khususnya mama), sebab kita dan ortu sama-sama sulit untuk mengatakan ‘aku sayang kamu’ maka inilah jalan yang bisa kita tempuh. Ke pasar dan berbelanja bersama. Entah teman-teman, termasuk cowok atau pun cewek….prinsip ini berlaku. Kita mungkin juga termasuk orang yang mudah mengutarakan rasa sayang ke ortu, tapi saat diminta untuk menemani belanja saja, kita lebih senang menemani batal dan guling kita. Bukankah ACTION TALKS LOUDER THAN SPEAKERS?
  • Dan segudang pengalaman lainnya (I hope that u will share it with me here, by adding ur comments). Ok guys, inilah semua yang bisa kita dapatkan dan I am so sure that masih banyak banget hal lain yang bisa kita dapatkan kalau saja kita mau untuk sedikit melihat apa yang terjadi di pasar. Next akan diceritakan mengapa kami membeli bakmi ayam yang dijual di sana. Ya, kita sudahi sampai di sini dulu.

Remember, always do ur best, and let God do the Rest!

Leonardus Budi Suryanto 0818 932638

Facebook Comment