Tangis Safina Sebelum Menang

258

New York — Dinara Mikhailovena Safina kembali mencapai perempat final AS Terbuka seperti dua tahun lalu setelah mengalahkan Anna-Lena Groenefeld 7-5, 6-0, Senin lalu.  Skor kemenangan yang telak karena menang hanya dengan 2 babak saja.  Tetapi yang tidak diketahui banyak orang adalah itu bukan kemenangan yang mudah karena ada tangis yang panjang sebelum pertandingan dimulai. Dia menangis di ruang ganti dalam Stadion Armstrong yang berkapasitas 10 ribu penonton.

“Setelah pemanasa, saya mulai menangis dan itu tidak tertahankan. Saya merasa tidak punya kekuatan untuk memainkan pertandingan itu,” kata Safina. “Pelatihku hanya bilang,’Ayolah keluar saja ke lapangan sana”.

Saya hanya bisa mengatakan “Saya tidak bisa membangkitkan semangatku sendiri. Dia hanya menjawab ‘Kita semua tahu bahwa kamu bukan mesin. Jadi bersiaplah dan hadapilah. Tidak usah berpikir terlalu jauh, hanya lakukanlah yang terbaik seperti biasanya. ” Pelan-pelan Safina akhirnya bisa membangkitkan dirinya dan keluar menghadapi pertandingan itu. “Saya senang sekali akhirnya bisa memenangkan pertandingan ini”

(Seperti dikutip dari Koran Tempo , Rabu, 3 September 2008)

Saya sedikit shock saat membaca pemain berusia 22 tahun ini, sebab dia bukanlah pemain yang baru terjun ke kancah olahraga tenis profesional. Dia sudah pernah memenangkan tiga gelar dan merupakan finalis enam kali dari tujuh kali keikutsertaannya sejak Mei lalu. Kalau dia adalah pemain baru, itu hal yang wajar terjadi. Tetapi kemudian saya lanjutkan membaca apakah yang sesungguhnya membuat dia mengalami hal itu sekaligus apa yang membangkitkan semangatnya.

Safina sedang mencoba mengikuti jejak kakak kandungnya, petenis putra Marat Safinm untuk memenangi ajang grand slam pertamannya di tunggal putri AS Terbuka. Kakaknya pernah memenangkan ajang ini delapan tahun lalu. Jadi bisa terbayang bagaimana tekanan yang didapatkannya. Tetapi juga impian itulah yang akhirnya membuat dia bisa bangkit kembali untuk berlaga, sebab seperti pengakuannya,”Saya ingin mimpi itu menjadi kenyataan, yaitu kakak-adik memenangi Amerika Serikat Terbuka”.

Dan tahukah salah satu prestasi Safina adalah meraih medali perak saat Olimpiade Beijing 2008  lalu? Berarti dia punya kemampuan, dia punya kapasitas meraih berbagai gelar…tetapi sampai hari ini pun setiap kali dia maju untuk bertanding, hatinya selalu ciut sesaat.

Apa yang bisa kita petik sebagai pelajaran kali ini, para pembaca blog yang setia?

1. Impian atau target kita dibuat bukan untuk membebani kita, tetapi sebaliknya harus melecut semangat kita menjadi lebih maju. Sayangnya seringkali kita menyusun target dan impian yang tidak achieveable (biasanya karena jangka waktu yang terlalu singkat untuk meraih itu semua), sehingga kita menjadi patah semangat saat bergerak untuk mencapainya.

2. Impian kita yang sebenarnya bisa menjadi pendorong kita untuk berkarya. Mendorong kita untuk bisa lebih maju lagi. Mendorong keberanian kita untuk bahkan tidak mendengarkan kata-kata yang menurunkan citra diri kita sendiri. Jika kita selama ini selalu mencoba mencapai impian kita tetapi selalu patah semangat dan merasa seakan-akan impian kita tidak berarti untuk dikejar (you know what? Maybe it is not your real dream! So  stop trying and look deep in your heart ‘what is my real dream?’, ‘whom should people think when they hera my name?’) Jika impian anda adalah impian yang sesungguhnya, maka roketlah yang seharusnya mendorong kita.

3. Kegentaran setiap kali memulai sesuatu yang sudah kita putuskan terkadang muncul, jangan dihindari. Resapi perasaan itu tetapi jangan terlena! Just do what you have to do, and do it with all your heart! Karena dengan kita melakukan saja, maka keberanian kita akan muncul dan pada akhirnya kita bisa mencapai apa yang sudah kita impikan.

4. Pada akhirnya adalah, ingin dikenang sebagai siapa bukan apa yang kita capai itu yang terpenting. Selamat mencapai apa yang terbaik dalam hidup anda dengan menjadi siapa kita pada prosesnya.

Get The Inspiration, Be Inspired and Inspires Others

Achieving Your Best In Life!

Leonardus Budi Suryanto

Facebook Comment