Dunia Dalam Satu Pintu

329

Aku hanya anak kebanyakan saja yang terlahir di keluarga yang mengagumkan kalo boleh aku bilang. Almarhum kakekku seorang guru yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memajukan pendidikan di kota kecil di Mojokerto. Anak-anak beliau berjumlah 5 orang tetapi yang paling bungsu sudah berpulang karena kecelakaan. Jika aku bayangkan betapa berat perjuangan beliau dulu. Untuk mengajar saja beliau harus menempuh perjalanan 40 KM setiap hari pulang pergi. Tetapi beliau tidak pernah menampakkan wajah muram atau berkeluh kesah meski harus berjalan kaki atau bersepeda untuk mengajar. Aku maklum karena jaman dahulu sarana transportasi sangat terbatas.

Setiap pagi beliau selalu mencium serta memeluk anaknya satu persatu tidak terkecuali ibuku. Dan beliau selalu berpesan “ jangan menyerah terhadap hidup, aku bangga punya anak-anak seperti kalian dan janganlah kalian tercerai berai kelak ‘. Seperti itulah beliau selalu berpesan di ambang pintu itu setiap hari. Dan ketika Matahari sudah mulai berganti malam, anak-anak beliau menunggu di ambang pintu itu untuk menyambut ayahnya. Ketika beliau datang mereka berlarian memeluk ayahnya yang sebelumnya tampak lelah berlahan berubah menampakkan keceriaan.

Sekarang Sudah dua tahun semenjak kepergian beliau, anak-anak beliau masih saja merindukan kehadirannya. Hampir semua anak beliau mengikuti jejak beliau yaitu mengabdi sebagai guru. Semangatlah yang mereka warisi dari kakek yang tak pernah pantang menyerah..

Hari Raya Idul Fitrilah yang selalu aku tunggu, dirumah tua itu anak-anak beliau akan berkumpul dan berbagai kebahagiaan. Dirumah ini sekarang hanya nenek sendirian bersama seorang pembantu. Tetapi Seperti kakek, walau tubuh nenek sudah renta namun semangat beliau masih berkobar. Setiap hari sebelum mentari muncul, beliau tanpa alas kaki menuju petak-petak sawahnya dan mengawasi tanamannya.

Di ambang pintu rumah tua itu beliau menanti kebahagiaan dengan datangnya anak-anaknya setiap Hari Raya. Pernah aku bertanya suatu kali kepada beliau, “ Nek kenapa menunggu diambang pintu ? “. Lalu beliau menjawab

“ cucuku disinilah kebahagiaanku dimulai dari dulu, diambang pintu ini dulu kakekmu selalu mencium dan memberi semangat anak-anaknya setiap pagi. Dan ketika kakekmu pulang diambang pintu ini juga anak-anaknya menunggunya. Ini adalah pintu kebahagiaan yang diberikan Tuhan kepada kami sebagai orang tua. “

Sekarang jika aku lihat dan memaknai lebih jauh maka kuperoleh bahwa kebahagiaan dimulai dari pintu hati. Kakekku Tidak pernah mempermasalahkan agama anak-anak beliau, dan mereka mengerti bahwa agama bukan permainan tetapi keyakinan. Pamanku misalnya adalah pendeta di kota kami, meski begitu Setiap Hari Raya Idul Fitri kami berbagi kebahagiaan serta saling memaafkan. Dan ketika mereka berhari raya kami datang kerumah paman mengucapkan selamat berhari raya. Itulah filosofi Dunia Dalam Satu Pintu keluarga kami, bahwa kedamaian datang dari pintu hati untuk saling mengasihi dan berbagi “.

Facebook Comment