Antara Gunting, Jarum & Seuntai Benang (Memaknai Sebuah Persahabatan)

7020

Dalam blog pribadinya, seorang teman saya menulis sebuah catatan kecil yang menarik untuk disimak dan menjadi pembelajaran hidup bagi banyak orang, terutama dalam merangkai tali persahabatan dengan orang lain. Adapun catatan kecil teman saya itu, isinya :

 Sahabat itu bukan berjalan seperti gunting

meski lurus tapi memisahkan yang menyatu

tapi sahabat itu berjalan seperti jarum beserta untaian benangnya

meski menusuk & menyakitkan

tapi menyatukan yang terpisah

Kalau dipikir-pikir, benar juga kata-kata teman saya dalam catatan kecilnya itu. Fungsi gunting memang untuk memotong. Semua benda yang tadinya menyatu, bisa terpisah-pisah menjadi bentuk potongan setelah dipotong dengan menggunakan gunting.

Bagaimana dengan jarum?

Meskipun kecil, apabila terkena kulit, ujung sebuah jarum bisa membuat luka atau menimbulkan rasa sakit. Namun, ketika sebuah jarum disatukan dengan seuntai benang, jarum itu justru bisa kita pakai untuk menyatukan benda-benda yang terpisah atau robek.

Dalam lingkup pergaulan, selayaknya kita menjadi pribadi yang dapat menyatukan, bukan memisahkan. Seorang sahabat seharusnya menciptakan harmoni dalam dinamika kehidupan pergaulan, dan bukannya menjadi sumber perpecahan, permusuhan, atau pihak yang membakar sekam ditengah-tengah keriuhan sebuah peristiwa.

Sahabat yang baik, adalah pribadi yang perduli dengan kekisruhan suasana hati sahabatnya, dimana sikap perduli ditunjukkan dengan upaya membangkitkan gairah hidup, bukan menciptakan bara dalam hati sahabat yang sedang gundah.

Ketika sedang memasuki ruang gelap, seorang sahabat hadir membawakan pelita agar sahabatnya tidak tersesat atau tersandung benda yang tergeletak di lantai.

Nasehat seorang sahabat dinyatakan sebagai tanda kasih, bukan untuk menjerumuskan atau membuat sahabatnya semakin tertekan oleh masalah, atau bahkan mendapatkan masalah baru.

Ada banyak rangkaian kata-kata yang bisa dibuat untuk mendefinisikan arti persahabatan, bagaimana persahabatan bisa membawa arti dan serupa sebongkah rona sukacita dalam kebersamaan.

Dinamika kehidupan dalam persahabatan sejati, memang tidak selalu dilalui dalam suasana harmonis. Ada kalanya menjengkelkan, ada saatnya menyebalkan. Tak jarang pula, seorang sahabat lancar mengucapkan kata-kata yang menyakitkan untuk maksud menyadarkan.

Amarah juga dapat timbul. Namun itu semua tidak untuk menghadirkan satu keinginan, yaitu menghancurkan hidup sahabatnya.

Seperti halnya jarum dan benang, seorang sahabat selayaknya merangkai kembali lembar-lembar yang terpisah atau robek hingga menyatu kembali, sehingga terbentuk sebuah lembar baru dalam kesatuan utuh.

Haruskah kita bersikap layaknya fungsi sebuah gunting dalam persahabatan, yang memisahkan dan bukan menyatukan?

Mungkin akan ada yang berteriak : “Terkadang seorang sahabat perlu bersikap sebagai gunting bagi sahabatnya agar sahabatnya itu tidak terjerembab pada masalah besar”.

Ya, memang benar, tapi hanya saat sahabatnya sedang menghadapi masalah yang bisa membuatnya jatuh dalam lembah kenistaan atau dosa. Saat itulah seorang sahabat bisa bertindak sebagai gunting dalam tali persahabatan dengan sahabatnya.

Selain itu, janganlah kita berperilaku sebagai gunting, sebab seorang sahabat hadir : bukan untuk menghancurkan, bukan untuk menyesatkan ataupun memecah rasa hingga menjadi semakin bimbang.

Kesetiaan seorang sahabat akan terlihat ketika sahabatnya sedang memiliki masalah. Apakah dirinya akan turut merasakan kepenatan dan rasa bimbang sahabatnya, atau malah menjadi benalu yang ingin merusak?

Jadilah sahabat yang bisa merangkum kembali lembar-lembar yang terpisah dalam hati sahabatnya, seperti halnya fungsi jarum dan benang. Hindari diri untuk memilih menjadi gunting, sebab pilihan sikap itu, tidak akan melanggengkan persahabatan.

Sekali lagi, jadilah sahabat yang baik.

 

.Sarlen Julfree

Facebook Comment