Have We Done Enough This Ramadhan ?

423

My dear friends,

Lebaran lagi.

Pastinya semua menyambut dengan penuh suka cita ya ? Awas, THR nya jangan dihabiskan. Ada baiknya untuk membayar sebagian hutang 🙂

 Lebaran kali ini adalah yang ke 33 kali kalau dihitung semenjak saya lahir ke dunia. (mungkin) yang ke 23 kali semenjak saya akil baligh karena saya sudah tidak ingat mulai umur berapa saya dianggap laki-laki dewasa dari sisi agama. Yang ke 6 kali semenjak saya menikah. Yang ke 4 kali semenjak saya punya malaikat kecil saya. Yang ke 13 kali semenjak saya lulus kuliah. Saya bisa teruskan menghitung sudah berapa kali saya merasakan Lebaran, tergantung peristiwa apa yang saya jadikan patokan.

Tapi sepertinya saya berhenti menghitung disini saja, karena makin banyak angka yang saya tampilkan, makin saya sadar bahwa telah banyak waktu yang saya sia-siakan sehubungan dengan pertanyaan saya tentang Lebaran dan Ramadhan.

 Pertanyaan saya setiap Lebaran selalu sama. Well, mungkin selalu sama semenjak saya sadar bahwa saya banyak dosa dan seharusnya lebih menghargai bulan Ramadhan.

Have we done enough this Ramadhan ?

 Tuhan tahu dan kita sebagai ciptaannya tahu bahwa manusia terlahir untuk berbuat dosa. At least, itu yang saya baca di sebuah artikel entah di mana.

Karena Tuhan sayang kepada ciptaannya, maka (mungkin) diciptakanlah bulan Ramadhan sebagai media untuk mensucikan diri dimana semua yang kita lakukan akan mendapatkan pahala atau ganjaran dari Tuhan. Sampai tidur kita pun dihitung sebagai sebuah kebaikan.Para ulama dan guru agama pun menyampaikan semua kebaikan bulan Ramadhan dimana pada hari Lebaran, kita dijanjikan untuk kembali ke keadaan yang fitrah, putih bersih seperti bayi yang baru lahir.

Selama kita hidup di dunia, maka selama itu pula kita diberikan kesempatan untuk menebus dosa-dosa kita.

 Pada hari Lebaran ke dua ini,saya bertanya kepada diri saya sendiri. Sudahkah saya memanfaatkan kesempatan yang diberikan Tuhan itu ? Apparently Not !

Sebagaimanapun saya berusaha untuk terlihat ataupun menampikan image bahwa saya adalah orang yang sholeh, ber iman, taat beragama, tapi hari ini saya sadar bahwa semua itu mungkin adalah ilusi yang saya ciptakan untuk orang-orang di sekitar saya.

Ilusi ini mungkin tidak sengaja saya ciptakan karena sekarang saya seorang kepala keluarga, seseorang yang seharusnya menjadi imam, seorang anak yang paling tua dan kebetulan laki-laki satu-satunya, seorang karyawan dengan kedudukan yang mengharuskan saya menjaga perilaku, dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya.Yang lebih parah lagi dan mudah-mudahan tidak, mungkin saya memang membuat dengan sadar dan secara terstruktur ilusi apa yang ingin saya tampilkan agar saya terlihat seperti laki-laki yang mendekati sempurna.

 Apapun alasannya, fakta ini membuat saya tidak lagi mendapatkan kebahagiaan sebagai orang yang baru saja menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.

Saya tentunya masih senang bila Lebaran datang karena saya bisa kembali minum teh botol dan merokok lagi di siang hari 🙂

Bisa memuaskan mata kalau di kantor melihat para wanita karir di perkantoran saya yang sangat fashionable dengan baju kekecilan dan celana kesempitan.

Bisa lihat-lihat video yang..you know..membuat abang ariel dan mbak luna jadi lebih terkenal tanpa dibayar.

 Saya sedih.

Orang-orang yang beriman juga sedih bila Lebaran datang. Karena mereka tahu bulan dimana mereka diberikan kesempatan untuk menebus dosa sudah usai dan mereka sedih, siapa tahu mereka tidak lagi diberikan kesempatan untuk bertemu bulan Ramadhan lagi.

Saya sedih, tapi sepertinya bukan karena saya cinta Ramadhan. Level saya belum sampai ke situ.Saya sedih, karena saya merasa tidak pantas merayakan Lebaran. Lebaran itu hari kemenangan tapi saya tidak merasa saya telah memenangkan sesuatu. Jadi, apa yang harus saya rayakan kalau ibadah saya hanya di badan dan ucapan bukan karena setinggi-tingginya iman ? 🙁

 Kalau saya rekapitulasi semua tindakan saya pada bulan Ramadhan ini, sangat jelas bahwa, lagi-lagi, saya menyia-nyiakan bulan Ramadhan ini.

1. Jumlah sholat tarawih saya bisa dihitung dengan 2 tangan

2. Saat saya mengaji, yang pasti frekuensinya tidak lebih dari 10 jari

3. Beberapa kali saya lupa sholat Isya ataupun sholat Subuh karena saya tertidur

4. Saat buka puasa dengan teman-teman saya, saya hanya fokus pada buka puasanya untuk kemudian lupa sholat maghribnya

5. Saya juga tidak royal-royal amat dalam bersedekah

6. Apalagi sholat sunat, malah tidak pernah sepertinya

 Saya kangen masa-masa kecil saya. Walaupun saya setengah mati berusaha berpuasa sebulan penuh dan sholat tarawih dengan diselingi bujukan, himbauan, kemarahan dan biasa nya suapan dari Bapak dan Ibu saya, saya selalu berhasil berpuasa sebulan penuh untuk kemudian saat Lebaran pakai baju dan sepatu baru, dipuji-puji karena berpuasa sebulan tanpa batal, mendapatkan uang dari Oom dan Tante saya, bisa makan enak, bisa libur panjang, dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Saat itu saya senang ketika Lebaran datang, apapun alasannya.

 Jadi, saya tidak dapat membohongi hati kecil saya. 

Saya sedih karena saya tidak merasakan kebahagiaan apa-apa saat Lebaran.

Saya sedih dan saya kangen pada kepolosan masa kecil saya. 

Saya sedih dan merindukan saat-saat dimana Lebaran adalah sesuatu yang benar-benar saya nantikan. 

 Saya tahu bahwa saya laki-laki yang tidak, bahkan jauh dari sempurna.

Seperti orang yang suka berbohong, maka waktu akan habis untuk menciptakan kebohongan-kebohongan berikutnya untuk memastikan bahwa kebohongan terjadi secara konsisten sehingga kita secara konsisten terus berbohong.

Sama halnya dengan penciptaan ilusi and trust me, berbohong itu melelahkan.

 Jadi, daripada membuang-buang waktu dan tenaga untuk berbohong dan menciptakan ilusi yang ideal, lebih baik saya beribadah dengan baik dan benar semaksimal mungkin, dan tentunya, beribadah dengan hati.

Prinsip saya, apapun yang saya lakukan bila kita melakukannya dengan hati, maka akan baik hasilnya untuk diri kita.

Jangan melakukan sesuatu hanya karena ritual dimana hal apapun yang kita lakukan menjadi sebuah rutinitas dan menjebak kita tanpa kita tahu makna dan tujuan dari tindakan kita tersebut.

 Saya tidak mau ibadah saya hanya menjadi ritual. Saya tidak mau ibadah saya hanya ilusi.

Saya ingin beribadah dengan hati.

Yang sedikit membahagiakan saya, dalam sebulan ini, ada saat-saat dimana saya sholat tepat waktu karena saya ingin.

Ada saat dimana saya mengaji yang awalnya karena merasa tidak enak pada Bapak, kemudian mendorong saya untuk mengaji karena saya ingin.

Ada saat dimana saya ingin segera sholat maghrib saat berbuka. Bukan agar saya bisa makan dan minum tanpa interupsi, tapi karena saya ingin.

Ada saat dimana saat saya ingin bersedekah, saya mengambil uang dari dompet tanpa melihat nominalnya dan memasukkannya ke kotak sumbangan di mesjid dengan seikhlas-ikhlasnya.

Ada saat dimana saya ke mesjid lebih awal untuk sholat Jum’at, bukan agar saya bisa tidur agak lama dalam posisi duduk, tapi karena saya ingin mengisi waktu dengan ber istighfar.

 Yang perlu saya lakukan adalah memastikan bahwa saat-saat tersebut bisa saya perluas periode “Ingin” nya, tidak hanya saat bulan Ramadhan, tapi selama hayat dikandung badan.

 Walaupun mungkin dan kemungkinan besar saya bukan salah satu pemenang dalam Lebaran kali ini, tapi saya tahu bahwa saya ingin menjadi pemenang.

Saya ingin merasakan kebahagiaan yang murni saat Lebaran, bukan ilusi kebahagiaan yang saya ciptakan.

Mudah-mudahan saya satu-satunya yang kurang bisa merasakan kebahagiaan pada Lebaran kali ini tapi saya janji, Lebaran berikutnya, Insya Allah, saya akan jadi insan Tuhan yang lebih baik lagi.

 

Taqabalallahu Minna Waminka…

 

*inspired by a lot of people

Facebook Comment