La Distinction karya Pierre Bourdieu

1902
0
pierre bourdieu

Biarpun pelantikan Joko Widodo sudah berlalu, tetapi euforianya masih terasa banget. To prove it, you may look at Google Trend. Apalagi, seperti yang pernah kami ceritakan, pelantikan ini satu-satunya pelantikan yang dirayakan dengan Pesta Rakyat. Untuk itu, kayaknya asyik juga kalau kita membahas buku karya filsuf sekaligus sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu: La Distinction: A Social Critique of The Judgement of Taste [Perbedaan: Kritik Sosial Atas Permasalahan Selera], yang terbit pada tahun 1979.

Lho? Apa hubungannya filsuf Prancis, perbedaan, dan pelantikan Jokowi? Ada banget. Tentunya kita masih ingat dengan kampanye #IStandOnTheRightSide dan #IndONEsia beberapa waktu lalu. Pada saat itu, benar-benar seneng deh liat warga Indonesia antusias menyambut pemilu.

Apalagi lihat keyakinan mereka dalam mendukung capres pilihan. Tapi, seyakin apapun orang-orang kemarin, kalau menurut Bourdieu sih, keyakinan mereka itu produk masyarakat. Bukan berdasarkan kemauan mereka sendiri.

Just like when your friend bought Longchamp or New Balance or something like that and you felt like “I think it is great in me”. Selera itu tidak netral, itu kunci yang dibahas oleh Bourdieu. Seperti kampanye pilpres kemarin. Di mana pendukung dua calon, kayaknya terpecah jadi dua golongan aja. Dari sini, kelihatan kalau selera individu mengikuti golongannya.

Selera, Produk Masyarakat

Buku filsuf yang meninggal pada tahun 2002 ini tebalnya tidak main-main: 613 halaman. Tapi kalau Hardrockers suka dengan kalimat panjang, dan suka dengan masalah sosial atau fenomena masyarakat, buku ini Anda banget. Apalagi, buku ini ditulis berdasarkan riset selama tiga belas tahun. Penggabungan metode kualitatif dan kuantitatifnya juga membuat buku ini jadi seimbang.

Ada satu hal yang menarik banget dari buku ini. Pada suatu waktu, Bourdieu memberikan berbagai macam foto kepada orang-orang dari tiga kalangan: bawah, menengah, dan atas. Dari sekian banyak foto itu, masing-masing responden diminta untuk memilih, mana foto yang paling indah, dan mana foto yang paling buruk? Rupanya, ada kecenderungan bahwa orang dari kelas sosial sama, akan memilih foto yang sama. Selera yang sama. Di luar kontrol individu.

Selain di luar kontrol, Bourdieu menyebutkan bahwa ada tiga hal yang menentukan selera kita: Habitus, Kapital, dan Arena Sosial. Habitus ini merupakan seperangkat persepsi, pikiran dan tindakan yang diperoleh melalui a way of being, a habitual state, yang ia sebut “disposition”. Maka, tidak heran kalau ada pepatah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Soalnya, kita tumbuh dengan mengamati lingkungan sekitar. 

Sementara itu, kapital merupakan hal yang kita miliki. Tapi kapital bentuknya bukan hanya uang lho. Ada kapital simbolik [citra baik, citra hebat, pujian dari orang lain], kapital budaya [bahasa, latar belakang keluarga, ], kapital sosial [link, teman-teman yang banyak], dan kapital intelektual [pendidikan]. Kalau arena sosial sendiri, itu adalah tempat di mana kita berada, secara sosial. Semacam kasta, gitu deh. Dan di setiap arena, orang-orang bertarung untuk bertahan hidup, mempertahankan posisi, atau malah, ingin naik tingkat ke arena yang lebih tinggi.

Nah, tiga hal itulah yang membuat Hermes laris berat di kalangan sosialita, Jokowi dicintai oleh para seniman, dan Korea diidolakan mati-matian oleh para remaja. Meski kita mengakunya bebas, sadar, atau apapun itu, kita tidak bisa memungkiri pengaruh dari lingkungan sekitar kita. Karena bagaimanapun juga, kita ini makhluk sosial, kan? Produk dari orientasi interaksi sosial. Jadi apapun alasan yang Anda lontarkan saat Anda mengaku suka dengan Black Sabbath atau apapun itu, percayalah, alasan sebenar-benarnya adalah “Karena Anda hidup di lingkungan yang demen heavy rock. ” [teks:@intankirana foto Goodreads]