The Philosophy Book: Big Ideas Simply Explained

1030
0
the philosophy book

Hard Rockers suka dengan filsafat? Kalau iya, berarti Lo musti beli buku ini. Filsafat timur ataupun barat, semuanya hadir di dalamnya.

Filsafat memang cabang ilmu pengetahuan yang gampang-gampang susah. Di satu sisi, filsafat tak memiliki tolok ukur yang jelas. Namun di sisi lain, filsafat membutuhkan kontemplasi yang dalam. Terkadang, masyarakat pun menganggap filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang kurang penting. Apa gunanya merenung? Lebih baik berusaha untuk menemukan sesuatu. Seperti yang senantiasa dibahas dalam cabang ilmu lain: Kedokteran, fisika, atau ekonomi.

Padahal, logika kita yang terbalik. Sebelum menemukan sesuatu, proses berfilsafat ini musti dimiliki oleh para ilmuwan. Tanpa adanya perenungan, tak akan ada penemuan. Maka, ilmuwan harus menjadi filsuf. Atau filsuf, menjadi inspirasi bagi berbagai penemuan. Dalam bidang sains maupun sosial.

Contohnya Sartre. Melalui konsep kesadaranny : ada untuk diri, dan ada dalam diri, ia menyadarkan manusia mengenai pentingnya peranan mereka dalam hidup.

Sebagai salah satu makhluk yang memiliki kesadaran, atau Phytagoras dengan konsep mengenai bilangan: Number is the ruler of forms and ideas. Tanpa adanya pemicu semacam ini, tak ada kemajuan dalam proses hitung. Padahal, hitung menghitung adalah hal yang penting dalam setiap sendi kehidupan. Pembuatan barang, teknologi, dan sebagainya.

Juga J.J Rousseau. Dengan konsep eksekutif, yudikatif, dan legislatif, ia membuat sebuah terobosan baru dalam hukum. Walaupun sering tebang pilih, namun hukum ialah hal konkrit yang mampu memisahkan benar dan salah. Dalam kehidupan yang bias, hukum mampu memberi batasan hitam dan putih. Walaupun hal ini kurang disetujui oleh Jacques Derrida, filsuf Prancis pada abad-ke 20.

Melalui konsep dekonstruksi, Derrida justru mencampurkan hitam dan putih tersebut menjadi warna abu-abu: tak ada yang benar, tak ada yang salah. Struktur dipecah belah sedemikian rupa hingga membuat para penjahat tak tampak lagi seperti penjaha, dan dunia yang ada di mata kita, mendadak berubah total. Menjadi struktur yang baru, atau malah, tak ada struktur.

Filsafat dan Perkembangan Masyarakat
Filsafat membentuk wacana dalam masyarakat, juga mengikuti wacana-wacana tersebut. Maka, pada setiap masa, filsafat dan filsuf pun memiliki kecenderungan masing-masing. Pada masa kuno, para filsuf lebih banyak membahas tentang dunia, bagaimana ia terbentuk dan berjalan. Pada masa pertengahan, pencarian akan Tuhan pun cukup gencar. Kebanyakan membahas mengenai eksistensi Tuhan: kemungkinan besar ia tidak ada. Kata Averroes, Philosophy and Religion are not compatible.

Renaissance, semua berpusat pada manusia. Termasuk filsafat, yang banyak membahas mengenai manusia. Hal ini pun kemudian berlanjut hingga masa revolusi. Bedanya, pada masa revolusi, manusia tak lagi menjadi obyek yang “dipuja-puja”, diagungkan keberadaannya. Pun pada masa modern. Bahkan filsuf seperti Camus pun menganggap bahwa hidup ini absurd, seperti Sisyphus yang mendorong batu, kemudian menjatuhkannya lagi. Manusia tak punya pilihan, toh pada akhirnya semua berujung kematian.

Baru pada masa kontemporer, filsafat tak lagi membahas manusia sebagai obyek tunggal. Namun sebagai sekumpulan masyarakat yang membentuk struktur. Struktur membentuk sistem dan dalam sistem tersebut, timbul berbagai macam hal yang sebenarnya sederhana, namun menjadi rumit. Hanya karena interaksi antar manusia. Bahasa menjadi salah satu hal yang penting dalam interaksi pada sistem tersebut. Tak hanya sekedar rangkaian kata, tetapi memiliki makna yang beragam. Para filsuf wanita pun menggugat: rahim sosial melahirkan wanita sebagai masyarakat kelas dua.

Begitulah filsafat. Di dalamnya, kita belajar mengenai hidup. Maka, tak heran bahwa ia senantiasa bergerak mengikuti hidup. Juga memulai sebuah wacana baru mengenai hidup. [teks;@intankirana foto: Goodreads]