4 Penyakit Komplikasi Cacar Monyet, Dari Ringan Hingga Terekstrem

27

Setelah Covid-19, kini cacar monyet telah menjangkit salah satu warga di Indonesia. Penyakit cacar monyet dapat berakibat fatal atau kematian jika ada komplikasi penyakit yang terjadi di dalamnya.

Dilansir dari CNN Indonesia, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan efek yang ditimbulkan dari penyakit cacar monyet diprediksi gak begitu fatal. Namun, ada seperti halnya covid-19, ada kemungkinan komplikasi penyakit yang terjadi.

Dokter spesialis kulit dan kelamin-konsultan, Prasetyadi Mawardi, mengungkapkan ada berbagai area tubuh yang diserang dalam penyakit komplikasi cacar monyet. Berikut ini penyakit komplikasi cacar monyet yang perlu diketahui.

Ruam Kulit

Ruam akan muncul pada kulit di wajah dan tangan serta bagian tubuh bagian atas. Tanda-tanda ini akan hadir berupa infeksi kulit sekunder atau ruam.

“Monkeypox ini beda dengan cacar air atau infeksi kulit lain. Dominannya [ruam] itu anggota gerak tubuh atas, tangan, lalu wajah,” kata Prasetyadi dalam konferensi pers bersama PB IDI beberapa waktu lalu.

Radang Paru

Penyakit komplikasi cacar monyet akan menyerang ke daerah pernapasan, seperti pneumonia atau radang paru. Berdasarkan hasil studi diketahui virus cacar monyet akan meningkatkan suatu jenis protein yang berhubungan dengan peradangan berat pada paru.

Radang Otak

Penyakit komplikasi cacar monyet yang berbahay selanjutnya adalah radang otak. Dilansir dari Mayo Clinic, gejalan awal dari radang otak sepeti flu ringan misalnya, sakit kepala dan demam.

Namun, jika sudah berat gejalanya, maka bisa mengakibatkan kejang-kejang hingga masalahn pendengaran dan penglihatan.

Sepsis

Komplikasi cacar monyet terekstrem adalah Sepsis. Apabila sudah timbul hadirnya sepsis dapat merusak jaringan, kegagalan organ hingga menyebabkan kematian.

Kunci agar terhindar dari penyakit komplikasi cacar monyet ini menurut Prasetyadi adalah pada PHBS atau Perilaku Hidup Bersih Sehat, seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, serta memasak bahan pangan hingga matang.

 

Penulis: Rifqi Fadhillah