Kisah Ponsel Nokia yang Terlalu Nyaman Hingga Alami Kebangkrutan

83

Ponsel di era 90an sampai 2000-an dikuasai sepenuhnya oleh Nokia, hingga membuat mereka menjadi raksasa teknologi yang tak tertandingi pada masanya. Namun, justru zona nyaman Nokia yang gak ada saingan ini membuat mereka hanyut hingga mengalami kebangkrutan.

Pada masanya ponsel Nokia menjadi ponsel sejuta umat yang dipakai masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Ketika itu, hanya ada beberapa merek ponsel, namun Nokia seakan berdiri sendiri dan tak mampu disaingi.

“Kembali di tahun 1990-an, tidak ada merek besar yang lain. Nokia sangat dominan. Orang-orang tidak bicara soal merek apa, tapi hanya model ponselnya seperti 3210 atau apapun yang kamu punya,” kata Ben Wood, analis di CCS Insight.

Kedigdayaan dari Nokia ini terus bertahan hingga tahun 2007. Di tahun tersebut market share Nokia mencapai 49,4%. Meski begitu, tanda-tanda posisi Nokia mulai tergorah mulai dirasakan pada tahun berikutnya.

Setelah tahun 2007, market share Nokia terus anjlok menjadi 43,7% di tahun 2018, kemudian 41,4% dan 34,2%. Gak sampai lima tahun, market share Nokia habis dan hanya tersisa 3%.

Menurut analis di CCS Insight, Ben Wood, Nokia terlalu nyaman dengan posisinya dan tak ada inovasi yang ditawarkan. Terlebih lagi di tahun 2007 atau tahun awal kebangkrutan Nokia, Steve Jobs muncul dengan iPhone yang merubah segalanya dunia smartphone.

“Kepuasan melanda, di mana mereka merasa tidak bisa berbuat salah,” papar Wood.

“Kemudian tiba-tiba, di Januari 2007, Steve Jobs berjalan ke panggung dan mengeluarkan iPhone dari sakunya dan mengubah dunia selamanya,” imbuhnya.

“Mereka tidak merasa software penting. Nokia membuat ponsel yang bagus. Mereka melalui dekade inovasi hardware yang luar biasa, tapi Apple melihat bahwa yang diperlukan adalah layar dan sisanya tentang software,” jelas Wood.

Melihat pasar mereka kini sudah mulai beralih, Nokia pun mulai mencoba sedikit demi sedikit bangkit dengan beralih memakai Windows Phone. Nokia dibeli oleh Microsoft di tahun 2014.

Namun begitu, hal tersebut gak membuat Nokia kembali menduduki tahta tertingginya di dunia telepon genggam. Justru orang-orang mulai meninggalkan Nokia dan beralih ke perangkat Apple dan Android.

Mantan CEO Nokia, Olli Pekka Kallasvuo, pun mengakui bahwa kejatuhan Nokia ialah dikarenakan terlalu puas dari zona nyamannya. Padahal, setiap tahunnya perusahaan yang terus bertahan adalah perusahaan yang selalu menciptakan suatu inovasi-inovasi.

“Di perusahaan sukses, mudah untuk mulai merasa nyaman. Itu menurunkan kebutuhan untuk mengambil risiko dan inovasi,” kata Mantan CEO Nokia, Olli Pekka Kallasvuo.

Dari perusahaan Nokia kita bisa belajar Hard Rockers, bahwa gak boleh larut sama zona nyaman. Harus adanya perubahan berupa inovasi dan kreatifitas agar tetap bertahan di dunia yang sudah sangat cepat ini.

 

Penulis: Rifqi Fadhillah