Sederet Fakta Penembakan Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe

54
Sederet Fakta Penembakan Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe

Baru-baru ini nama mantan perdana Menteri Jepang bernama Shinzo Abe trending di Twitter dan menjadi perbincangan netizen usai mengalami insiden penembakan di wilayah Nara, Jumat (8/7/2022).

Sederet Fakta Penembakan Mantan Perdana Menteri Jepan Shinzo Abe

Berikut ini Hard Rock FM rangke mengenai sederet  fakta penembakan Shinzo Abe yang merujuk dari berbagai sumber.

Ditembak saat berpidato

Diketahu Abe ditembak ketika sedang menyampaikan pidato di jalanan Kota Nara sekitar pukul 11.30 waktu setempat. Saksi mata tiba-tiba mendengar tembakan sebelum Abe tiba-tiba jatuh saat berpidato.

Ditembak sebanyak 3 Kali

Sederet Fakta Penembakan Mantan Perdana Menteri Jepan Shinzo Abe

Berdasarkan keterangan polisi setempat, penembakan Abe dilakukan sebanyak tiga kali dari belakang. Akibat insiden tersebut, Abe kini langsung tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit.

Pelaku langsung ditangkap

Tersangka pelaku penembakan bernama Tetsuya Yamagami yang langsung diamankan petugas untuk dimintai keterangannya. Dirinya merupakan warga lokal Nara berusia sekitar 40 tahun.

Gunakan Senjata Api Rakitan

NHK sebagai media lokal Jepang melaporkan insiden penembakan menggunakan senjata api rakitan berukuran besar yang dibuat oleh pelaku saat melancarkan aksinya.  Koresponden BBC di Jepang, Rupert Wingfield-Hayes, juga melaporkan beberapa saksi mata mengaku melihat pelaku berlari membawa senjata api ukuran besar usai insiden terjadi.

Hingga saat artikel ini dibuat, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Hirokazu Matsuno, mengatakan bahwa kondisi Abe masih belum diketahui. Matsuno mengungkapkan saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan. Di sisi lain Reuters melaporkan bahwa Abe mengalami henti jantung.

Baca Juga: Melihat Chevrolet Impala 1963 Peninggalan Kobe Bryant yang Terjual Rp3,3 Miliar

“Kondisi mantan PM Abe saat ini belum diketahui. Kami masih memeriksa situasi,” kata Matsuno dalam jumpa pers darurat di Tokyo.

 

Penulis: Fadia Syah Putranto